Wednesday 30 January 2013

"Manusia Tak Pernah Puas"

Jam sudah pun menunjukkan tepat jam 12 tengah malam. Sejuk dan beku disini apabila keseluruhan kawasan dilitupi salji tebal. Ada yang suka musim ini, ada yang tidak suka. Pada aku, inilah musim yang paling aku tak suka. Semuanya putih dan tiada warna-warna indah. Satu perkataan yang mungkin terpacul untuk menggambarkan situasi ini; BOSAN! Namun itulah yang terpaksa dilalui kerana betapa celakanya kehidupan itu, ia masih KEHIDUPAN! OK cukup ! Bukan itu sebenarnya yang nak aku tulis malam ini.

Satu persoalan yang sering bermain difikiran aku. Kita merangkak dari satu tahap ke satu tahap yang lain. Yang kaya semakin kaya, yang miskin pulak macam mana (cuba fikirkan sekejap) ? Yang kurang cerdik dulunya, kini semakin tinggi ilmunya. Dulu rumah kecil, sekarang dah mampu memiliki rumah yang besar. Yang dulu "kereta kelas ekonomi", sekarang "kelas eksekutif". Yang dulu pakainya lusuh, kini yang berjenama. Ah ! Banyak sangat kalau nak diberikan contoh kan ? Sampai pagi esok pon tak siap - siap agaknya. Rehat jap....




Namun itu jugalah yang terjadi pada aku, kau dan majoriti dari kita. Betul tak ? Cuba fikir-fikirkan..........
Aku sendiri pon tak ingat agaknya kalau ada yang bertanya berapa banyak profesion aku. Aku tersenyum sendiri!

Dari model fotografi dan jurufoto sambilan ke penari kebudayaan kemudian aku menjadi Pembaca Berita





kemudian aku berjinak-jinak dengan dunia teater dan muzik, 


.


mengajar?


apa lagi?



Banyak lagi... Aku sendiri pun tak pernah puas dengan apa yang aku buat. Mungkin kita manusia, tak pernah puas dalam apa yang kita lakukan. Andaian aku begitu. Apa mungkinkah kita diciptakan untuk selalu buas dan tidak pernah puas? Termenung dijendela, aku sendiri masih mencari jawapannya.

Yang pastinya kembara ku akan aku teruskan demi mencari apa sebenarnya yang aku mahu.....
Tiada noktah dalam pencarian kerana selagi kita hidup selagi itu pencarian dan kepuasan itu akan menuntut untuk terus dicari dan dicari.





Tuesday 29 January 2013



DUNIA DILAKNATI.... Kecuali...


Hadis riwayat Imam Tirmidzi:
“Dunia itu adalah dilaknat, dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali zikrullah ‘azza wajalla, dan sesuatu yang dikasihi Allah, atau orang alim ataupun orang yang belajar.”
(Sunan At-Tirmidzi: 2244)

Pengorbanan Luar Biasa Mereka yang Cinta Buku dan Ilmu

Ulama besar itu sedang jatuh sakit. Parah. Seluruh tubuhnya terasa payah. Persendiannya ngilu dan tulang-tulangnya kaku. Dia hanya bisa tergolek di atas tempat tidur, tak kuasa bergerak dan beranjak sedikit pun dari sana. Namun kondisinya yang sangat lemah itu, tak juga menyurutkan semangatnya untuk terus berbagi ilmu, membaca dan menelaah buku-buku, serta berdiskusi dengan murid-muridnya.

Dokter yang didatangkan untuk mengobatinya, pun begitu prihatin melihat keadaannya. Setelah memeriksanya, dokter itu berkata, “Aktifitas Anda yang banyak membaca dan berdisukusi tentang ilmu, telah membuat sakit Anda semakin berat.”

“Tapi, aku tidak bisa bersabar untuk melakukan itu. Akan aku buktikan sesuai dengan ilmu Anda. Bukankah jiwa itu jika bisa merasakan kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan, maka perasaan itu akan mampu menyembuhkannya dari penyakit?” kilahnya dengan nafas sedikit tersengal.
“Tentu,” jawab sang dokter singkat.
“Jiwaku akan merasa senang jika ia bisa berinteraksi dengan ilmu,” tambahnya memberi alasan.

Tak brp lama, dengan tetap menuruti kata hatinya untuk terus membaca, ulama besar itu pun kembali sehat seperti sedia kala. Dia mengobati sakitnya dengan membaca. Melihat keadaannya yang membaik, dokter yang pernah merawat dan menasehatinya, hanya bisa berkata, “Ini di luar terapi yang biasa kami berikan.”

Ulama besar tersebut tak lain adalah Ibnu Taimiyah; sosok yang semasa hidupnya sangat lekat dengan kesederhanaan, kemiskinan, dan penjara, tetapi tetap ceria dan selalu bersahaja. “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih merasakan kenikmatan hidup dari pada Ibnu Taimiyah. Meskipun hidupnya dalam kesederhanaan, kemiskinan, tahanan dan di bawah ancaman, tetapi ia adalah orang yang paling lapang dadanya, sehingga wajahnya selalu terlihat berseri-seri,” tutur salah seorang muridnya, Ibnu Qayim Al-Jauziyah, menceritakan tentang pribadinya.

Sederhana dan bersahaja mungkin sebuah sikap yang memang sangat lekat pada diri seorang Ibnu Taimiyah. Tetapi yang lebih menarik dari sekadar itu, adalah semangat keilmuannya yang tinggi. Semangat telaah dan bacanya yang hebat, yang mampu meringankannya dari rasa sakit yang menimpanya. Sejak kecil semangat itu telah ada, dan tak pernah menyusut karena terpengaruh oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi. Dia tak pernah merasakan makanan enak dan lezat, dan hanya memakan apa adanya baik di pagi hari maupun malam hari. Dia juga tak pernah surut meski harus bersua dengan beragam cobaan dan siksaan. Ia hanya sibuk membaca dan mendalami banyak macam ilmu. Ia rajin belajar, menulis dan meriwayatkan hadits sehingga ia mampu menghimpun hadits-hadits yang tak dimiliki orang lain. Selain belajar, ia juga menyebarkan ilmunya. Ia mengajarkan hadits di beberapa daerah seperti Damaskus, Mesir dan Iskandaria. Meski di daerah-daerah itu ia menghadapi bermacam siksaan dan cobaan. Bahkan ketika di Damaskus lah, ia sempat ditahan dua kali hingga akhirnya wafat di sana tahun 728 H, di dalam penjara.

Ibnu Taimiyah seolah tenggelam dalam ilmu. Karena ilmu ia kemudian tidak menikah. Dan karena ilmu; semangatnya menelaah dan menulis, ia mampu menghasilkan lebih dari 500 jilid buku dari sekitar 350 judul, yang menyebar di mana-mana. Cintanya pada ilmu dan buku, lebih kuat dari cinta kita pada apapun yang sangat kita sukai. Dan mungkin dialah contoh yang ingindigambarkan Ibnu Qayim dalam sebuah ungkapannya, “Adapun para pecinta ilmu, mereka lebih terpesona dengan ilmu melebihi terpesonanya seorang laki-laki kepada kekasihnya. Dan kebanyakan diantara mereka tidak pernah disibukkan oleh seseorang (yang dicintainya) seperti mereka disibukkan dengan imu.”

Ibnu Rajab pun memuji sikapnya yang memilih membujang dari pada menikah. Dia berkata, “Inilah dampak positif dari membujang, yang akan terus bermanfaat bagi para penuntut ilmu dan para ulama sepanjang masa. Betapa banyak hasil karyanya yang tersebar di seluruh dunia Islam sejak zamannya hingga hari kiamat nanti, Insya Allah.”

Kecintaan pada ilmu dan sarana-sarananya; membaca, menulis, dan membelanjakan harta demi buku, adalah tradisi ulama kita yang telah ada sejak dulu. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah puas dengan ilmu, dan tak pernah bosan untuk menimbanya. Salah seorang murid Ibnu taimiyah, Al-Hafidz Ibnu Abdul Hadi, pernah berkata, “Jiwaku tidak pernah kenyang dengan ilmu, tidak pernah puas dengan membaca, tidak pernah bosan dengan kesibukan itu, dan tak penrah letih untuk terus menelaah dan mencari.”

Mereka, ketika bertemu dengan sebuah buku yang belum pernah mereka baca, seakan menemukan harta karun yang berharga. Ibnul Jauzi pernah bercerita tentang dirinya, “Aku menceritakan keadaanku, aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika aku mendapati sebuah buku yang belum kubaca, aku seakan menemukan sebuah harta karun yang sangat berharga.”

Suatu saat, dia juga pernah mengatakan, “Aku telah menyaksikan deretan kitab-kitab di Madrasah Nizhamiyah. Ternyata, kitab-kitab yang terpajang di sana mencapai 6 ribu jilid buku, diantaranya ada kitab-kitab Abu Hanifah, kitab-kitab Al-Humaidi, ada kitab-kitab dari guru kami Abdul Wahab bin Nashir, kitab-kitab Abu Muhammad Al Khasyib, dan banyak lagi yang lain, dan aku merasa bahwa sudah pernah membacanya. Kalau boleh aku katakan, sungguh aku telah membaca lebih dari 20 ribu jilid, tetapi aku masih terus mencari.”

Ulama kita adalah orang yang sangat mencintai buku, dan penuh semangat membacanya. Buku adalah barang mahal bagi mereka, yang selalu harus ada dan tersedia, dengan cara apapun mereka mendapatkannya. Muhammad bin Ya’kub Al-Fairuz Abadi, misalnya. Setiap kali bepergian ia selalu membawa bukunya. Ia selalu membaca dan berpikir. Terdorong oleh kecintaan yang begitu kuat, ia pernah membeli buku dengan emas seharga 50 dinar.

Sedang Al-Jahizh, salah seorang sastrawan ternama, setiap kali mendapatkan buku ia selalu membacanya dari awal hingga akhir. Ia sangat mencintai buku. Ia bahkan menyewa toko-toko buku dan menginap di sana untuk menelaah.

Ada lagi Abul ‘Ala Al-Hamadzani. Ketika kitab-kitab Ibnul Jawaliqi dilelang di kota Baghdad, saat itu ia turut hadir. Penjual menawarkan satu paket dengan harga 60 dinar. Abul ‘Ala pun membelinya dengan menangguhkan pembayaran hingga hari Kamis berikutnya. Tenyata, selang waktu itu dia gunakan untuk kembali ke kampung halamannya. Di sana ia jual rumah miliknya dengan harga 60 dinar untuk membayar harga buku tersebut. Kisah Abul ‘Ala sangat mirip dengan kisah Ibnu Najar yang menggadaikan rumahnya seharga 500 dinar untuk digunakan membeli buku.

Mereka melakukan itu, tentu karena mereka memandang bahwa buku dan ilmu itu jauh lebih berharga dari apa mereka keluarkan. Mereka lebih mencintai tumpukan buku dari pada tumpukan harta. Merekalah yang dikatakan Al-Jahiz dalam sebuah ungkapannya, “Orang yang kehabisan nafkah dan harta benda yang dia keluarkan untuk mendapatkan buku yang dia inginkan, lebih dia sukai dari pada membeli seorang budak perempuan yang cantik, memperturutkan syahwatnya membuat bangunan mewah, maka dia tak akan mendapatkan ilmu yang memberi kepuasan, dan harta yang diinfakkannya tak akan bermanfaat untuknya sampai dia mengutamakan membelanjakannya untuk buku-buku, seperti seorang badui yang lebih memprioritaskan susu kudanya untuk keluarganya, atau sampai mengharapkan sesuatu dari ilmunya seperti seorang badui yang mengharpkan sesuatu dari kudanya.”

Para pecinta ilmu selalu menemukan kepuasan dalam bacaan-bacaan mereka. Jiwa mereka terasa ringan dan dada mereka terasa lapang, manakala bertemu buku dan punya kesempatan untuk membacannya.

Salman Al-Hambali, salah seorang guru Ibnu Hajar Al-Asqalani, mengatakan, “Tidur siang yang engkau tinggalkan untuk bisa membaca buku, yang tidak mendatangkan harta untukmu, maka katakanlah, “Biarkan aku (melakukan ini), semoga ku dapat menemukan buku yang bisa menunjukkan kepadaku bagaimana aku mendapatkan buku (catatan amal)ku dengan aman dan dengan tangan kanan.”

Seorang syaikh pernah berkata, “Aku ingat, suatu kali aku membeli buku di kota Riyadh setelah itu aku berjalan ke arah timur. Tapi rasanya aku tak dapat meneruskan perjalananku karena ketertarikanku yang sangat pada buku itu. tidak ada yang bisa kulakukan kecuali berhenti di jalan lalu buku itu aku baca hingga selesai seluruhnya, setelah itu barulah perjalanan aku lanjutkan.”

Dengan membaca buku mereka merasa memiliki semangat untuk terus hidup. Membaca adalah sarana menyambung nafas untuk mempertahankan eksistensi diri mereka. Sangat benar apa yang dikatakan seorang diantara mereka, “bacalah, agar engkau bisa hidup.”

Inilah potensi besar yang sebenarnya pernah ada dalam tubuh umat ini. Dulu, umat ini pernah berjaya oleh karena kecintaan mereka yang kuat terhadap ilmu. Budaya membaca dan menuntut ilmu di kalangan para ulama sangat menakjubkan. Mereka sudah bisa berdiri dengan tegak dengan segenap cahaya, saat umat lainnya masih diliputi kegelapan. Potret kehidupan mereka perlu menjadi teladan untuk kehidupan kita masa kini; mengorbankan harta u. ditukar dengan buku dan ilmu pengetahuan.

Membaca adalah kata yang menunjukkan permulaan wahyu, dan penanda lahirnya kenabian pada diri Rasulullah SAW yang menjadi penerang bagi manusia dan segenap alam. Membaca adalah titik balik paling fundamental pada perubahan sejarah kemanusiaan dari kekufuran dan kesesatan mereka, meunju cahaya iman, tauhid dan hidayah; juga dari tradisi suram kepada nilai-nilai moral, akhlak dan etika; dari kebutaan hati kepada penglihatan yang berdasarkan iman. Para pendahulu kita sangat memahami itu, dan karena itulah mereka terus membaca dan tak pernah bosan melakukannya. Mereka memiliki tradisi itu dalam kehidupan mereka dan berusaha mewariskannya kepada generasi setelah mereka.

Namun tampaknya, tradisi yang baik itu kini seakan tidak terlalu mendapatkan perhatian. Bukan hanya oleh orang-orang awam, tetapi kita dan mereka yang hidupnya sangat dekat sarana-sarana ilmu dan profesi-profesi keilmuan, juga tak terlalu mempedulikan buku, dan membacanya. Seorang syaikh berkata, “Kalau kita perhatikan para mahasiswa kita hari ini, mereka terlihat jarang membaca. Padahal sesungguhnya mereka baru memulai belajar. Aneh. Sungguh aneh. Mereka seperti merasa telah memiliki banyak ilmu. Padahal Ibnu Jauzi menasehatkan, ‘Hal yang paling baik adalah berbekal dengan ilmu. Siapa yang merasa cukup dengan ilmu yang dia miliki dan puas dengannya sehingga tidak mau mendengar pendapat orang lain, kemudian terlalu membesarkan dirinya, maka dia akan terhalang dari memperoleh manfaat. Dengan terus membaca dan belajar, akan tampaklah kesalahannya.’”

Seringkali, setelah kita menyelesaikan satu jenjang pendidikan, terkadang ada bisikan dalam hati yang mengatakan bahwa kita telah melewati fase belajar, dan karena itu tak perlu lagi membaca. Kita bahkan kerap merasa diri sudah cukup berilmu. Kita lupa, atau sengaja melupakan keadaan ulama kita dalam berinteraksi dengan ilmu, yang tidak pernah berhenti hingga ajal menjemputnya.

Ada kemalasan yang sering muncul karena kita tak menemukan kenikmatan dalam membaca. Membaca tidak menyentuh jiwa kita, sebagaimana dirasakan para ulama, di mana bagi mereka membaca adalah alat pemuas jiwa.

Secara umum, mungkin kita memang sangat jarang membaca. Tradisi keilmuan kita sangat jauh berbeda dengan para pendahulu kita; salafusshalih dan pengikut mereka. Tetapi tidak berarti bahwa semua kita benar-benar menjauhi buku. Di tengah-tengah kita, masih banyak orang-orang yang dengan kebersahajaan dan kesederhanaannya tak pernah lepas dari buku. Selalu rajin membaca, kapan pun dan dimana saja.

Anjakan Paradigma Huffaz

“Sungguh merisaukan apabila ada huffaz yang tidak tahu hendak ke mana” saya meluahkan pandangan.
“Itu sering berlaku, ustaz. Perasaan itulah yang banyak membelenggu pelajar semester akhir” jawab salah seorang sahabat.
Beliau turut gusar dengan perkara yang sama di kalangan rakannya.
Sudah lama saya menanti peluang ini. Peluang untuk berwacana bersama pada Huffaz al-Quran.
Kelompok insan terpilih yang berpotensi tinggi, tetapi sebahagiannya dibelenggu oleh batasan-batasan yang dibina oleh persepsi massa.

16 Januari 2010, selepas penangguhan tarikh asal pada Ogos 2009 akibat H1N1, saya berkesempatan meluangkan sehari suntuk masa di Darul Quran Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) di Kuala Kubu Bharu.
Biar pun himpunan hasrat dan harapan di dada saya terasa dibataskan oleh tajuk yang bakal diperkatakan, namun saya tidak mahu terikat dengan tema program Bengkel Tinta Da’ie, pada hanya memperkatakan tentang teknik penulisan. Apa sahaja teknik yang bakal dibincangkan, ia hanya wasilah untuk ekspresi sesuatu yang lebih bersifat induk iaitu DAKWAH, sebagai subjek utamanya.

BEBANAN PERSEPSI

Mungkin punca kepada kaburnya perjalanan ini berkait dengan persepsi masyarakat yang menyalahi realiti. Ramai yang melihat bahawa menjadi hafiz atau hafizah, adalah satu destinasi. Sedangkan bagi seorang pelajar yang telah berjaya menyertai kelompok huffaz, dia tidak dapat merasakan bahawa dirinya tiba ke destinasi, tetapi seperti baru hendak memulakan perjalanan. Kombinasi di antara sangkaan orang ramai, dan perasaan seorang hafiz dan hafizah, telah mencipta satu beban yang berat untuk ditanggung oleh para huffaz. Mereka diberikan status sosial yang tinggi ketika mana setiap seorang berasa janggal untuk menampung status itu tanpa alat yang mencukupi.

Hakikatnya, menjadi seorang hafiz dan hafizah adalah satu fondisi yang sangat hebat. Tetapi ia bukan kemuncak cita-cita.

Secara peribadi, saya dapat merasakan betapa besarnya impak andaikata saya memulakan pengajian di peringkat ijazah sarjana muda setelah menjadi seorang hafiz. Ia adalah satu kekurangan yang telah saya hadapi, biar pun ia tidak pernah menjadi halangan untuk meningkatkan penguasaan ilmu Syariatullah.

Di dalam mana-mana subjek, keperluan menghafal dan memahami nas al-Quran, di samping nas al-Hadith dan pendapat-pendapat ulama’ yang lain, adalah perkara asas yang diperlukan oleh seorang pelajar Syariah untuk memahami satu-satu topik yang dipelajari.  Melakukan semuanya dalam keadaan bukan seorang hafiz, terasa ada kekurangan yang memerlukan mujahadah besar bagi mengatasinya. Alangkah baiknya jika saya sudah menghafal al-Quran sepenuhnya semasa kaki melangkah ke bumi Syam dahulu. Malah, tuntutan universiti kepada pelajar Syariah agar menghafal 6 juzuk al-Quran sebagai syarat graduasi yang memerlukan kami untuk melakukannya di celah-celah 46 subjek, sudah cukup memeritkan. Belum lagi pada soal mengekalkan hafalan itu selepas ujian Tasmi’.

Selesai menghafal al-Quran sebelum mula belajar Syariah, adalah satu impian yang dibayang-bayangkan oleh setiap kami, semasa dihimpit kesulitan mengimbangkan hafalan al-Quran dengan proses pembelajaran yang padat.

Tetapi itu lebih baik daripada berjaya menjadi seorang hafiz dan hafizah, namun terus terjun ke gelanggang agamawan tanpa mendapat ilmu yang cukup berkaitan dengan proses memahami nas dan Syariah secara keseluruhannya. Jadi huffaz tapi belum jadi asatizah. Menghafal al-Quran tidak pernah sama sekali sinonim dengan memahami al-Quran. Kedua-duanya memerlukan proses yang tersendiri dan tidak boleh saling menampung secara simplistik.

Di sinilah titik yang menampakkan betapa institusi tahfiz dan status huffaz di negara kita memerlukan satu anjakan paradigma yang besar.

MEMINJAM CERMIN TURKI

Sebagai perbandingan, jika dilihat ke sebuah negara yang kaya dengan huffaz seperti Turki, di negara itu tidak ada sesiapa yang digelar sebagai al-hafiz. Menjadi seorang hafiz atau hafizah bukanlah sesuatu yang dianggap pencapaian dengan status sosial, tetapi ia hanya melunaskan satu tuntutan sebagai seorang Muslim. Justeru, mindset setiap pelajar yang menghafal al-Quran bukan untuk membawa hafazannya sebagai satu aset kerjaya.  Menjadi hafiz bererti telah memiliki sesuatu yang sangat besar untuk diri sendiri, tetapi belum mempunyai apa-apa untuk orang lain. Oleh itu, mereka menjadikan hafazan itu sebagai bekalan untuk meneruskan lagi proses pembelajaran. Dengan pemikiran seperti itu, saya melihat sendiri betapa sejumlah besar mahasiswa dan mahasiswi di Ilahiyat Fakultesi adalah terdiri daripada hafiz dan hafizah. Ia menjadi satu kredit besar buat mereka semasa melunaskan pengajian di peringkat universiti.

“Kamu sudah khatam al-Quran?” itu soalan yang sering ditanya di dalam masyarakat kita.
Terutamanya kepada anak gadis sebelum naik pelamin.
Tetapi di Turki jarang sekali kedengaran orang bertanya demikian.
Lazimnya mereka akan bertanya, “kamu sudah menghafal al-Quran?”

PROSES YANG MELENGKAPI

Saya kongsikan diskusi berkenaan dengan hal ini bersama pelajar Darul Quran, agar mereka meletakkan satu azam untuk tidak mudah berpuas hati hanya dengan selesai menghafal al-Quran dan memperolehi Sijil atau Diploma yang ditawarkan, sebaliknya hendaklah disambung lagi dengan peringkat pengajian yang lebih tinggi, hingga sekurang-kurangnya berjaya memperolehi ijazah di dalam mana-mana cabang bidang Pengajian Islam, sebelum benar-benar boleh berperanan dengan baik menanggung kepimpinan Islam di dalam masyarakat.

Begitu juga dengan program pensijilan yang meletakkan sasaran program untuk melahirkan hafiz dan hafizah, yang kemudiannya disalurkan mengambil jurusan profesional (bukan Syariah), sebagai acuan melahirkan golongan Profesional Muslim, atau Profesional yang hafiz! Saya merasakan seperti ada unsur simplistik dalam meletakkan formula sedemikian rupa. Seorang jurutera yang menghafal al-Quran adalah satu kelebihan yang besar pada dirinya untuk menjadi seorang Muslim Profesional atau Profesional Muslim, asalkan hafazan itu dimasak dengan latihan formal atau tidak formal di dalam cabang-cabang disiplin Pengajian Islam yang kita sedia maklum. Tetapi untuk sekadar memiliki 30 juzuk hafalan di dalam diri, dan kemudian beralih pula ke bidang perubatan dan kejuruteraan untuk melahirkan tokoh-tokoh yang berinspirasikan al-Khawarizmi dan yang seumpama dengannya, ia kedengaran seperti satu retorik.


PROAKTIF

Justeru, kepada para hafiz dan hafizah itu sendirilah tanggungjawab bagi mereka bertindak secara proaktif dengan tidak membataskan diri kepada persepsi-persepsi itu tadi. Mereka harus mencabar diri untuk pergi lebih jauh. Jangan tunduk kepada demand yang hanya menghendaki kalian mengimamkan Tarawih. Itu besar, tetapi ada yang lebih besar menanti!
Kuasai ilmu-ilmu alat di dalam Pengajian Islam.
Kuasai juga Bahasa Arab dengan sebaiknya.
Itu jika jalan yang dipilih adalah pada mahu menjadi seorang agamawan.
Lebih cantik jika dapat dilengkapkan dengan penguasaan Bahasa Inggeris sebagai bahasa ilmu, serta kemahiran-kemahiran lain seperti ICT, pengurusan, komunikasi dan lain-lain keperluan dakwah.
Ada pun jika para huffaz mahu meneruskan pengajian di dalam bidang akademik bukan Pengajian Islam seperti kejuruteraan dan perubatan, teruskan cita-cita yang amat bermakna itu. Namun perlu ada kesediaan di minda bahawa hafazan yang telah berjaya diperolehi, masih merupakan bahan separuh masak yang perlu dicanai lagi dengan pelbagai ilmu berkaitan Syariah. Justeru di celah-celah pengajian di universiti di bidang masing-masing, carilah ruang dan peluang untuk meneruskan pembelajaran di bidang agama.

Sesungguhnya saya sangat kagum dengan disiplin dan potensi yang dilihat selama saya berada bersama para huffaz di Darul Quran. Apa yang perlu diberikan secara konsisten adalah semangat untuk mereka terus berjiwa besar dan membawa al-Quran ke massa dengan segala ruang dakwah yang menanti.

“Dan dia (Yaaqub) berkata lagi: “Wahai anak-anakku! janganlah kamu masuk (ke bandar Mesir) dari sebuah pintu sahaja, tetapi masuklah dari beberapa buah pintu yang berlainan. Dan aku (dengan nasihatku ini), tidak dapat menyelamatkan kamu dari sesuatu takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Kuasa menetapkan sesuatu itu hanya tertentu bagi Allah. Kepada-Nyalah aku berserah diri, dan kepada-Nyalah hendaknya berserah orang-orang yang mahu berserah diri” [Yusuf 12: 67]

Selamat maju jaya saya ucapkan kepada para huffaz al-Quran di mana sahaja mereka berada.
Semoga jiwamu sebesar al-Quran yang telah mengisi hatimu

Sumber asal: http://saifulislam.com/?p=7469
p/s: artikel lama oleh Ustaz Hasrizal yang sangat baik untuk dikongsi dan direnungkan oleh para huffaz terutamanya yang akan, kini, dan sudah terjun ke masyarakat. 1 artikel yang membuka sudut pandang yang baru
MALAY COLLEGE KUALA KANGSAR



MCKK merupakan sebuah sekolah berasrama penuh premier lelaki sahaja di Malaysia. Sekolah ini terletak di Bandar DiRaja Kuala Kangsar, Perak. Moto sekolah, Fiat Sapientia Virtus adalah didalam Bahasa Latin, yang bermaksud Kebijaksanaan Mutu Manusia.

MCKK ditubuhkan pada 1905 oleh pihak British atas cadangan daripada R.J. Wilkinson, pegawai pendidikan jajahan pada masa itu. Cadangan itu disokong sepenuhnya oleh Sultan Perak, Sultan Idris Murshidul Azam Shah I (1886—1916).

Pada awalnya, penubuhan sekolah ini ialah untuk mendidik dan melatih golongan elit Melayu, yang terdiri daripada kerabat diRaja. Anak lelaki kelahiran kebanyakan sukar untuk mendapat tempat di sekolah ini. Selepas kebangkitan nasionalisme orang Melayu pada sekitar tahun 1947, syarat kemasukan ke sekolah ini dilonggarkan dan semakin ramai anak-anak orang kebanyakan dapat peluang untuk menuntut di sini. Kini anak Melayu terpilih berpeluang mengikuti pembelajaran peringkat menengah di sekolah ini.

Seorang graduan Universiti Oxford yang berasal dari Ireland, William Hargreaves mendapat penghormatan untuk menjadi pengetua pertama sekolah ini dan sekolah ini ditadbir oleh pengetua dari Britain sehingga tahun 1965, di mana Abdul Aziz Ismail, seorang rakyat berbangsa Melayu diambil sebagai pengetua sempena ulangtahun ke-60, dan sehingga kini rakyat lelaki berbangsa Melayu memegang jawatan tersebut. Bangunan Overfloor (dibina pada 1909) adalah binaan yang menjadi identiti sekolah ini, bercirikan senibina Greco-Roman, berhadapan padang ragbi, merupakan asrama bagi pelajar tingkatan 4 dan tingkatan 5 (dan juga tingkatan 3 dan 6 pada satu masa) dan dewan makan. Bangunan Prep School (dibina pada 1912) yang menempatkan pelajar tingkatan 1, terletak di selatan kampus, adalah lebih kecil daripada bangunan Overfloor, mengekalkan senibina Greco-Roman, tetapi dengan ciri-ciri yang berbeza.

Pada tahun 1955, bangunan West Wing dan East Wing ditambah kepada Overfloor untuk menempatkan lebih ramai pelajar. Tiga bangunan ini kini dikenali sebagai Asrama Besar (Big School). Pada tahun yang sama, Blok Pentadbiran dan Menara Jam juga ditambah untuk memenuhi keperluan semasa. Seterusnya pada tahun 1963 asrama tambahan , Pavilion dan pada tahun 1972, Asrama Baru (New Hostel) dibina.Pavilion dibina untuk menempatkan pelajar tingkatan 3 manakala Asrama Baru dibina untuk menempatkan pelajar tingkatan 2.

Satu lagi mercu tanda utama sekolah ini ialah Big Tree, sebatang pokok hutan hijau yang terletak di sebelah timur Overfloor, yang berusia lebih tua daripada bangunan Overfloor sendiri.
MASJID UBUDIAH:

Masjid yang terindah di Negeri Perak ini terletak di sebelah kawasan permakaman Di Raja Bukit Chandan, Kuala Kangsar. Masjid ini dibina di atas kehendak Sultan Idris Murshidul Azam Shah, Sultan Perak ke-28 (1887-1916) kerana menunaikan nazar baginda.
Kerajaan Negeri Perak kemudian mengarah Colonel Huxley dari Pejabat Kerja Raya di Kuala Lumpur supaya merangka sebuah pelan masjid yang hendak didirikan itu. Tugas membuat pelan rekabentuknya telah diberikan kepada Hubbeclk, seorang arkitek kerajaan dan tugas melaksanakan bangunan itu pula diserahkan kepada Caufield sebagai ketua jurutera Negeri Perak ketika itu.Pada hari Jumaat 26 September 1913, Sultan Idris Murshidul Azam Shah telah meletakkan batu asas masjid tersebut. Pembinaan masjid tergendala beberapa tahun kerana kerosakan ketul-ketul marmar di tempat simpanannya yang telah dipijak oleh dua ekor gajah kepunyaan Sultan Idris dan Raja Chulan.
Pesanan batu marmar yang baru dari Itali tergendala akibat tercetusnya Perang Dunia Pertama, sehinggalah 1917 barulah masjid yang terindah di negeri Perak itu dengan rasminya dibuka oleh Sultan Abdul Jalil Nasaruddin Shah iaitu Sultan Perak yang menggantikan Sultan Idris yang mangkat pada tahun 1916. Belanja pembinaan masjid Ubudiah ketika itu di anggarkan berjumlah RM200,000.00

**DOSA manusia dengan manusia**

Andai ada seorang manusia yang melakukan dosa dengan Allah, lalu kita kutuk. Hina, caci. Kita lemparkan kata - kata kesat padanya dan kemudian, kita ajak manusia lain untuk bersekutu dengan kita untuk mencacinya.

Kita keji, dari rupa paras fizikalnya, sehinggalah ke peribadi serta keluarganya. Kita betul - betul jelek melihat dia melakukan dosa dengan Allah.
(sedih aku tengok)

Dan sekarang, semakin lama semakin ramai yang bersetuju untuk mengkeji manusia itu. Keji berjemaah.


Sampai suatu hari, manusia yang dikeji itu, bertaubat dan memohon ampun dari Allah Ta'ala. Jika dia benar - benar insaf, dan mahu bertaubat, kemungkinan besar, taubat dan ampunnya diterima Allah. Maka selesai sudah, dan dia sudah insaf, sudah berubah. Bukan kerana dikeji, tetapi kerana dia mendapat hidayah. Alhamdulillah.

Apa yang tak selesai.

Dosa kita dengan dia, yang selama ini kita maki caci, keji. Juga mengajak manusia lain untuk mengkeji dia.

'Kalau berdosa dengan manusia, kita kena mintak ampun dari manusia"

Habis.

Manusia tadi sudah bertaubat dan insyaallah Tuhan ampunkan dia. Tapi kita akan terus berdosa dengan manusia itu.

Adakah anda terfikir?

Author: Zahiriladzim